AWALI AGENDA RAMADHAN, UM MAGELANG BEDAH FILM IDEOLOGI TEROR

Menyambut  Ramadhan 1438 H, Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Studi Islam (LP2SI) UM Magelang  telah mempersiapkan rangkaian acara bertajuk  Ramadhan di Kampus (RdK). Seminar dan Bedah Film “Islam dan dan Ideologi Teror”   merupakan rangkaian awal  kegiatan RdK yang diadakan Sabtu 20/5 di Aula Gedung Rektorat Kampus 2 UM Magelang dan dibuka oleh Rektor itu.

Tohirin M.Ag, Ketua LP2SI mengatakan, sejumlah tokoh Muhammadiyah hadir dalam acara yang diikuti oleh 110 peserta.  “Film yang dibedah berisikan tentang penjelasan mengenai hakekat ajaran Islam dan untuk menegaskan bahwa Islam bukanlah agama yang memproduksi para teroris. Sebaliknya,  Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin dan  merupakan agama yang mencintai keragaman,” ujar Tohirin.

Dr. Zuhad, dosen UIN Walisongo Semarang serta  Hammam Sanadi,  Ph.D, dosen IAIN Salatiga  menjadi nara sumber untuk mengulas film berdurasi 25 menit  tersebut.   Selain itu Agus Miswanto MA, dosen FAI UM Magelang   serta KH Abu Ubaidah dan Ketua PDM se-Kedu juga memberikan testimoni dan ulasan film yang diproduksi oleh LP2SI UM Magelang itu.

Tohirin menambahkan, rencananya  film tersebut akan ditayangkan di TV-MU serta dibedah di sekolah-sekolah Muhammadiyah.  Film itu juga  dapat di-upload di youtube dan akan dibuat dalam versi HP sehingga bisa di akses oleh siapa saja.

Usai bedah buku, di hari itu juga agenda RdK dilanjutkan dengan acara Refreshing Mubaligh yang diikuti 40 orang yang berasal dari perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kota dan Kabupaten Magelang serta perwakilan takmir masjid. Dua wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah  yakni Dr. Hasan Ulamai dan Dr. Rozihan menjadi pemateri dalam acara yang berlangsung hingga sore hari itu.

Para peserta mendapatkan materi tentang Hadist Kontroversi Seputar Ramadhan serta Tantangan Dakwah Ummat dari dua nara sumber tersebut. “Refreshing mubaligh diharapkan dapat memberikan pencerahan baik materi maupun substansi dari  peran mubaligh itu sendiri untuk menyampaikan hal-hal yang bersumber kepada Al Qur’an dan Sunah Nabi Muhammad SAW,” pungkas Tohirin. (Humas – Yudia)