UNITY IN DIVERSITY: MENGGAPAI RAHMAT DI TENGAH PERBEDAAN

UNITY IN DIVERSITY: MENGGAPAI RAHMAT DI TENGAH PERBEDAAN

Masih dalam serangkaian kegiatan Ramadan di Kampus (RdK), UMMagelang menyelenggarakan pengajian dalam rangka memperingati Nuzulul Quran dengan tema Unity In Diversity pada Jumat (24/05/2019). Bertempat di Aula Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Kampus 2 UMMagelang acara dibuka oleh Wakil Rektor II,Nuryanto,ST,M.Kom. Pada kesempatan tersebut Nuryanto menyampaikan apresiasi kepada pihak penyelenggara dan mengajak civitas akademika untuk lebih mendalami kembali Alquran.

“Dengan diadakannya kajian ini semoga kita dapat mengambil hikmah dan menambah kecintaan kita terhadap Alquran, karena selain memiliki kewajiban untuk berpuasa di bulan Ramadhan kita juga memiliki kewajiban untuk senantiasa mempelajari Alquran,” ujar Nuryanto dalam sambutannya.

Pengajian yang dihadiri oleh 300 peserta dosen dan tenaga kependidikan tersebut diisi oleh Ustad Suwondo dari Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Temanggung. Dalam kesempatan tersebut Suwondo mengajak jamaah untuk menggali lebih dalam makna Rahmat di tengah perbedaan yang ada. “Unity In Diversityseringkali dibicarakan di berbagai tempat. Bagaimana kita berbeda tapi tetap bersama. Di moment kali ini hal yg paling penting adalah kita memperingati turunnya Al Quran untuk manusia melalui Nabi Muhammad yang seharusnya dapat dirasakan namun justru seringkali diabaikan,” ujarnya.

Lebih lanjut Suwondo mengatakan barangsiapa menginginkan kebaikan dunia maka harus juga mengejar kebaikan akhirat, keduanya harus diamalkan dengan ilmu. Sehingga orang yang sudah berilmu maka dia akan terbiasa dengan perbedaan dan dapat menyikapi secara bijak. Perbedaan juga seringkali justru terjadi pada persoalan kecil. Allah SWT bisa saja menyatukan manusia, tapi terkadang manusia sendiri yang tidak ingin disatukan melalui perbedaan, kecuali yang mendapat Rahmat. “Perbedaan akan selalu ada dimanapun kita berpijak, namun persoalan perbedaan bukan pada perbedaannya namun pada diri kita yang tidak menata diin kita, akhlak kita sebagai pondasi yang kuat untuk mengahadapi perbedaan,” tandas Suwondo di akhir ceramahnya. Pengajian ditutup dengan doa bersama yang juga dipimpin langsung oleh Ustad Suwondo.

 

Dosen UMMagelang Wujudkan Kampung Biofarmaka

Dosen UMMagelang Wujudkan Kampung Biofarmaka

Tanaman Obat Keluarga (TOGA) mengandung banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Selain digunakan sebagai obat herbal, TOGA juga merupakan bahan baku rempah-rempah serta memiliki fungsi estetika untuk mempercantik pekarangan rumah. Hasil pengelolaan kebun toga dalam skala besar dapat memberikan nilai tambah ekonomi masyarakat.

Desa Purwodadi yang terletak di Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung dengan luas sekitar 290 Hektare memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai lahan penanaman TOGA. Selain tanahnya yang subur, pertanian menjadi mata pencaharian utama di desa tersebut. Sayangnya, aktivitas pertanian yang ada belum memanfaatkan keterbaharuan teknologi dan sistem modern. Hal tersebut mendorong dosen Universitas Muhammadiyah Magelang (UMMagelang) Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) untuk melakukan upaya pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian dalam penyediaan bahan swamedikasi berbasis tanaman obat tradisional.

Pengabdian yang diketuai oleh Setiyo Budi S., M.Farm., Apt bersama Heni Lutfiyati, M.Sc., Apt dan Tiara Mega Kusuma, M.Sc., Apt tersebut berlangsung mulai 10 Januari hingga 10 Mei 2019. Adapun masyarakat yang terlibat dalam pengabdian tersebut adalah unsur pemerintah desa, tim penggerak PKK, dan komunitas pemuda dalam kegiatan pengumpulan berbagai alternatif penyelesaian masalah. Sedangkan tahapan yang ada dalam pengabdian tersebut meliputi : pertama sosialisasi berkenaan dengan TOGA. Kedua, pelatihan tata cara penanaman, perawatan, dan pemanenan tanaman obat, simulasi kegiatan swamedika. Ketiga, Pendirian kebun tanaman obat desa sebagai pusat rujukan masyarakat dlaam kegiatan determinasi  tanaman obat. Keempat, pendampingan masyarakat dalam praktek mengelola kebun tanaman obat di pekarangan rumah.

“Tentunya ada banyak manfaat yang didapatkan, khususnya bagi masyarakat semdiri dengan adanya tanaman TOGA dipekarangan rumah. Pertama, menyediakan alternatif bahan swamedikasi untuk keluarga masyarakat, sehingga menekan biaya pembelian obat kimia. Kedua, masyarakat mengetahui potensi ekonomi dari industri pengelolaan kebun tanaman obat.” Ujar Budi

 

Adapun hasil yang telah dicapai dari pengabdian tersebut adalah berdirinya pusat kebun tanaman obat. Kebun TOGA percontohan tersebut dibuat di lahan seluas 14 x 2 m2 dan terdiri dari 3 lajur. Setiap lajur terdiri dari dua baris tanaman yang memanjang. Kebun tanaman obat memiliki 73 tanaman yang mencakup 37 varietas. Setiap tanaman memiliki label identitas dalam Bahasa Indonesia dan Latin

“ Setelah hasil yang didapatkan saya berharap kedepan Desa Purwodadi dapat menjadi Desa biofarmaka yang mampu memanfaatkan lingkungan dan memberdayakan lingkungan sekitar sehingga menambah nilai tambah bagi masyarakat” Tanda Budi.

HUMAS

 

 

Angkringan Ramadan Bersama Ganjar Pranowo

Angkringan Ramadan Bersama Ganjar Pranowo

Kampus (RDK) yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Magelang (UMMagelang). Dialog kebangsaan pada Angkringan Ramadan yang mengangkat tema “Unity in Diversity” dihadiri oleh Rektor UMMagelang, Ir. Eko Muh Widodo, MT, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Drs. H. Tafsir, M.Ag, dan juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, S.H., M.IP., tersebut mendapat respon yang tinggi baik dari mahasiswa maupun masyarakat umum.

Dalam kesempatan yang dihadiri oleh 500 peserta tersebut, Eko menyampaikan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan yang ada. Menurut Eko,perbedaan adalah hal yang wajar terjadi, tapi bukan berarti dengan perbedaan itu harus menjadikan masyarakat menjadi tercerai berai. Ia menegaskan meski pilihan berbeda, namun persatuan itu harus tetap dijaga. Sementara itu, pada kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (18/05) di Halaman Masjid Manaarul ‘Ilmi Kampus 2 UMMagelang tersebut,

Ganjar mengajak seluruhmasyarakat terutama kalangan mahasiswa untuk selalu menjaga perdamaian. “Dalam konteks berbangsa dan bernegara para tokoh politik, tokoh agama, dan lain-lain mulai Indonesia ceprot semua menjadi beda.  Maka kemudian bagaimana yang berbeda-beda ini menuju satu titik yang sama, dan yang berbeda-beda tersebut sudah didorong oleh pendiri bangsa Founding Fathers kita dahulu,” tandasnya.

Ganjar juga berpesan kepada masyarakat untuk hati-hati dalam menggunakan jari dan senantiasa menjaga kewarasan, karena jika tidak, hal tersebut dapatberpotensi menjadi keributan.

Lebih lanjut, Tafsir menyampaikan bahwa Muhammadiyah dibangun atas dua komitmen yaitu ingin memajukan umat islam dan memajukan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, di tengah keragaman apapun, satu yang ingin Muhammadiyah tuju yaitu kemajuan umat islam dan kemajuan bangsa Indonesia.

 

HUMAS

 

 

HAEDAR NASHIR RESMIKAN MASJID MANAARUL ‘ILMI UMMAGELANG

HAEDAR NASHIR RESMIKAN MASJID MANAARUL ‘ILMI UMMAGELANG

Setelah melewati proses pengerjaan selama satu setengah tahun, masjid kampus Universitas Muhammadiyah Magelang (UMMagelang) akhirnya diresmikan. Masjid yang diberi nama  Manaarul ‘Ilmi tersebut diresmikan dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir M. Si yang didampingi oleh Rektor UMMagelang, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah serta beberapa pejabat pemerintahan di Kabupaten Magelang pada Sabtu (05/05/19) di Kampus 2 UMMagelang.

Bupati Kabupaten Magelang, yang diwakili oleh Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Magelang, Drs. Adi Waryanto dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh keluarga besar UMMagelang atas diresmikannya masjid tersebut. “Teriring doa dan harapan semoga masjid ini mampu menjadi pemacu dan pemicu semangat Keluarga Besar UMMagelang dalam kegiatan peribadahan dan bisa menjadi fasilitas kampus yang pada gilirannya dapat menjadi kampus yang mampu mencetak lulusan-lulusan yang unggul dan islami,” ujarnya.

Sementara itu, Ir. Eko Muh Widodo, MT, Rektor UMMagelang dalam sambutannya menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh pihak, donatur serta mitra kerja yang telah mensukseskan berdirinya masjid kampus UMMagelang. “Acara ini sangat membahagiakan karena pada akhirnya UMMagelang berhasil memiliki masjid tiga lantai setelah proses pengerjaan yang ditargetkan 2 tahun justru dapat selesai dalam waktu 1,5 tahun. Sehingga pada Bulan Suci Ramadhan nanti, masjid ini sudah dapat digunakan sebagai pusat kegiatan pembinaan keagamaan dan pencerahan,” ujar Eko.

Lebih lanjut Eko menjelaskan bahwa acara peresmian masjid tersebut juga sekaligus menandai dibukanya rangkaian kegiatan Ramadhan di Kampus (RDK) yang diselenggarakan oleh UMMagelang sebulan penuh. “Selain meresmikan masjid, acara pagi hari ini juga merupakan tanda dibukanya seluruh rangkaian kegiatan ramadhan di kampus yang akan dijalankan selama satu bulan penuh nantinya,” tambah Eko.

Pada kesempatan tersebut, Haedar Nashir menyampaikan pentingnya membangun karakter dari kampus dan masjid di tengah kehidupan bermedia sosial. “Dalam tradisi Islam, Masjid mempunyai fungsi yang fundamental. Dengan lokasi yang strategis dan masjid yang indah ini, insya Allah, UMMagelang bisa menjadi uswatun hasanah, menjadi central of excellent sekaligus juga membangun generasi ulil albab bagi masa depan umat dan bangsa, di tengah budaya baru yaitu budaya media sosial dimana semuanya serba mudah dan instan yang dalam tempo sepersekian detik informasi langsung dapat menyebar,” jelasnya.

Acara diakhiri dengan pemotongan pita oleh oleh Haedar Nashir dan disaksikan oleh 300 tamu undangan.

 

HUMAS

Tingkatkan Performasi Dosen, UMMagelang Adakan Workshop Penyusunan Proposal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Tingkatkan Performasi Dosen, UMMagelang Adakan Workshop Penyusunan Proposal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Perguruan Tinggi di samping memiliki kewajiban untuk melaksanakan pendidikan, juga berkewajiban untuk menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal tersebut yang kemudian disadari dan mendorong Universitas Muhammadiyah Magelang (UMMagelang) melalui Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M) bekerjasama dengan Forum Komunikasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Forkom LPPM) Perguruan Tinggi Propinsi Jawa Tengah melaksanakan Workshop Penyusunan Proposal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat pada Kamis (02/05/19).

“Indonesia telah berhasil menempati urutan kedua di ASEAN dalam produktifitas publikasi internasional. Hal tersebut tentunya perlu ditingkatkan secara terus menerus agar dapat menempati urutan pertama sebagaimana target Pemerintah. Rendahnya produktifitas peneliti, rendahnya kapasitas dan kompetensi riset grup serta rendahnya mobilitas peneliti menjadi kendala riset hari ini. Oleh karenanya melalui workshop ini kami harapkan dapat meningkatkan kualitas performasi dosen dalam penyusunan proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, baik yang bersifat kompetitif nasional, desentralisasi, maupun yang bersifat penugasan,” jelas Dr. Heni Setyowati ER. S.Kp, M.Kes, Ketua LP3M pada sambutannya.

Kegiatan yang  berlangsung di Grand Artos Hotel & Convention tersebut diikuti oleh 120 dosen dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dan dibuka langsung oleh Rektor UMMagelang, Ir. Eko Muh Widodo, MT. Dalam sambutannya Eko mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap tujuan kegiatan yang telah ditargetkan dapat tercapai.”Kami berharap semua perwakilan perguruan tinggi yang hadir pada pagi hari ini dapat menyusun proposal dengan baik di tahun 2019 dan dapat didanai pada 2020. Saya kira itu yang menjadi konsen kita hari ini, dan itu yang harus kita upayakan bersama sehingga tahun 2020 lebih banyak lagi proposal yang dapat didanai,” ujar Eko.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Dr. Suparni Setyowati Rahayu, M.Si, reviewer Nasional Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bidang Pengabdian. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan materi seputar penyusunan proposal pengabdian. “Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam pengabdian kepada masyarakat yaitu: (1) berbasis kewilayahan (2) berbasis hasil riset, (3) berdasarkan permasalahan, kebutuhan atau tantangan” jelas Rahayu.

Hadir pula narasumber lain Prof. Dr. rer.nat. Heru Susanto, ST,MM,MT, reviewer Nasional Kemeristekditi bidang penelitian yang menyampaikan materi seputar penyusunan proposal penelitian dan Dr. Muji Setyo, MT, fasilitator penulisan artikel ilmiah internasional Kemenristekdikti yang juga merupakan dosen D3 Mesin OtomotifUMMagelang yang menjelaskan mengenai teknik formatting dan unggah proposal melalui Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat(Simlitabmas).

Kegiatan diakhiri dengan diskusi panel dan klinik proposal, peserta dapat langsung berkonsultasi dengan narasumber terkait proposal yang telah dibuat sebelumnya.

HUMAS