LOMBA OLAH RAGA INTERNAL MERIAHKAN MILAD KE-54 UMMAGELANG

LOMBA OLAH RAGA INTERNAL MERIAHKAN MILAD KE-54 UMMAGELANG

Dosen dan tenaga kependidikan UM Magelang mengikuti senam aerobik di halaman kampus 1 UM Magelang pada hari Jumat, 3/8. Acara yang merupakan pembukaan rangkaian Kegiatan Lomba Olah Raga Internal  tersebut diadakan untuk memperingati milad ke-54 UMMagelang.

“Lomba internal kali  ini terbagi menjadi enam cabang olahraga, yakni senam, voli putra dan putri, bulutangkis putra dan putri, futsal putra, tenis meja putra dan putri, dan bola tangan putri,” ujar Noviudin Pratama, ketua panitia kegiatan.  Ovi, begitu ia biasa dipanggil, mengatakan, tujuan diadakanya lomba ini  selain untuk memeriahkan milad ke-54 UM Magelang sekaligus untuk  mempererat tali silaturahmi antara dosen dan tenaga kependidikan. “Disamping juga sebagai ajang refreshing bagi dosen dan tenaga pendidikan,” imbuh Ovi.

Ia menambahkan, selain badminton yang diadakan di Kelurahan Magersari,  seluruh cabang olah raga diadakan di halaman kampus 1 UMMagelang. Pada senam  aerobik, panitia membagi peserta ke dalam dua kategori usia yakni  peserta usia di bawah 40 tahun serta peserta di atas 40 tahun. Juri serta instruktur senam yang berasal dari eksternal UMMagelang memilih tiga peserta terbaik untuk masing-masing kategori.

Lomba  yang diadakan hingga siang hari itu berlangsung meriah dan penuh kekeluargaan, Para peserta  yang berasal dari  perwakilan fakultas serta unit itu antusias mengikuti lomba hingga usai.

 

HUMAS

PENSIL B TUMBUHKAN PERCAYA DIRI DIFABEL

PENSIL B TUMBUHKAN PERCAYA DIRI DIFABEL

Penyandang disabilitas di Indonesia saat ini mencapai 11 juta jiwa. Dari jumlah tersebut banyak yang mempunyai bakat  namun belum bisa tersalurkan. Pandangan masyarakat yang negatif mendeskriminasikan anak-anak difabel. Hal ini dapat berdampak buruk pada rasa percaya diri  serta kemauan dalam mengembangkan bakat dan minatnya karena  perasaan tidak mampu, putus asa, tidak berharga, hilangnya rasa percaya diri, merasa rendah diri,  serta cemas.

Kondisi tersebut menggugah TIM PKM-M UMMagelang untuk mengadakan Pentas Seni Luar Biasa atau  disingkat PENSIL B.  Adapun peserta kegiatan tersebut adalah siswa siswi dari SMA LB Ma’arif Muntilan yang memiliki bakat  di bidang seni. Diprakarsai tim PKMM yang terdiri dari tiga mahasiswa UMMagelang,  mereka mengadakan kegiatan dalam event Car Free  Day (CFD) di  Akmil Panca Arga Magelang beberapa waktu lalu.

Pentas seni  menampilkan seni tari, seni lukis, dan seni baca Al Qur’an.  Semuanya ditampilkan dengan rasa percaya diri oleh  puluhan siswa penyandang disabilitas baik  baik tuna rungu, tuna netra maupun tna wicara  secara bergantian. Seni baca  Qur’an ditampilkan oleh Musa siswa tuna netra dari  SMPLB Ma’arif Muntilan.

Tampilan yang disajikan oleh  siswa siswi tersebut   memukau pengunjung CFD yang memberikan apresiasi positif. Pengunjung di CFD sangat antusias melihat penampilan seni tari. “Saya sangat takjub melihat penampilan Tari Merak . Awalnya saya tidak mengira kalau yang menari dari siswi tuna rungu dan tuna wicara. Namun, setelah menyaksikan langsung, ketika volume musik dikecilkan,  mereka tetap menari. Sungguh luar luar biasa!” ujar Weni, salah satu pengunjung CFD yang menyaksikan acara tersebut hingga selesai Selain itu respon positif juga diperoleh dari pihak Akmil Panca Arga yang   mengijinkan PENSIL B  pada acara CFD berikutnya.

Nani Marfu’ah, ketua tim PKMM mengatakan, ”Tujuan kami mengadakan PENSIL B adalah  untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka di depan khalayak umum. Selama ini mereka minder dengan kekurangan yang dimiliki. Untuk itu, disamping dapat mengembangkan potensi minat dan bakat,  PENSIL B juga dapat menghilangkan pandangan buruk masyarakat karena  mereka pun juga mempunyai  bakat yang tidak kalah dengan orang normal.” Nani mengatakan, rencananya, pentas akan diadakan selama  empat  kali dalam event yang banyak disaksikan oleh khalayak ramai.

HUMAS

MAHASISWA UM MAGELANG ANALISIS HUKUM PRAKTIK UPAH  BURUH PANEN PADI

MAHASISWA UM MAGELANG ANALISIS HUKUM PRAKTIK UPAH BURUH PANEN PADI

Banyak praktik pengupahan pada masyarakat di sektor pertanian, salah satunya dipraktikkan di kabupaten Magelang yang sebagian  masih berupa lahan  pertanian yaitu upah bawon yang berarti upah yang diberikan kepada buruh pemanen padi berupa gabah atau yaitu bulir padi yang yang sudah dirontokkan

Pengupahan bawon dilaksanakan secara turun temurun dan tidak dapa dilepaskan dari sejarah budaya Jawa yang masih kental dengan budaya gotong royong. Fakta di lapangan bahwa masyarakat Desa Pagersari, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan buruh tani melaksanakan pengupahan bawon secara terus-menerus sehingga seakan-akan praktik tersebut sudah menjadi merupakan kebenaran dan dianggap biasa dalam masyarakat.

Akan tetapi, praktik tersebut nyatanya memunculkan ketidakpastian jumlah upah yang akan diperoleh buruh panen padi di awal akad karena sangat tergantung dengan produktivitas, luas sawah dan musim panen.  Observasi awal kepada salah satu pelaku pertanian di desa Pagersari menguatkan bahwa masih terdapat banyak buruh panen padi menggantungkan penghasilan dari upah tersebut. Sehingga praktik ini terus melekat dalam kegiatan muamalah dengan kondisi masyarakat yang belum memahami kesesuaian praktik pengupahan dengan aturan hukum Islamnya.

Berawal dari keprihatinan itulah tiga mahasisiwa Fakultas Agama Islam  UM Magelang yakni Aprilia Risma Yanti, Khoirunisa Safitri, dan Lu’lu’ul Jannah mengadakan penelitian berjudul  Analissis Hukum Islam terhadap Praktik Upah Buruh Panen Padi di Deas Pagersari Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang  

Penelitian tersebut, kata  Aprilia yang menjadi ketua tim,  bertujuan untuk menganalisis praktik upah buruh panen padi di Desa Pagersari menurut hukum Islam. Penelitian yang dibimibing oleh Dr. Nurodin Usman Lc MA ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik pengumpulan  berupa observasi, wawancara, serta dokumentasi. “Adapun obyek penelitian dilakukan kepada masyarakat yang mempraktikkan pengupahan dalam pertanian padi yang meliputi petani pemilik, penebas, dan buruh panen padi di Desa Pagersari,” kata Aprilia.

Bersama kedua teman-temannya, Aprilia berharap, penelitian tersebut dapat menambah khazanah dan penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang muamalah, khususnya yang berkaitan dengan praktik pengupahan dan diharapkan dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan akad dan praktik pengupahan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. “Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peranannya untuk membantu mengupayakan pengupahan buruh panen padi di Desa Pagersari, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang agar sesuai dengan hukum Islam,” pungkas Aprilia.