Buah mengkudu atau pace merupakan buah yang memiliki banyak kandungan yang bermanfaat seperti zat nutrisi,  zat anti bakteri,  serta zat anti kanker. Manfaat buah mengkudu sangat banyak, diantaranya mampu menghambat pertumbuhan dari beberapa bakteri sehingga dimanfaatkan sebagai zat anti bakteria.

Karena keterbatasan pengetahuan akan khasiat yang dimiliki oleh buah mengkudu, maka tak sedikit dari masyarakat yang hanya menganggap buah mengkudu sebagai obat tradisional dan tidak disukai karena bau yang menyengat serta rasanya yang pahit. Namun ternyata, melalui inovasi yang dilakukan oleh mahaisiswa UMMAGelang, buah mengkudu yang pahit  dan baunya menyengat tersebut dapat diolah menjadi kue bolu yang lezat dan berkhasiat.

Berawal dari situlah tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Sosial Humaniora (PKMK) yang terdiri dari  lima mahasiswa UMMagelang  mengajukan proposal “BOLU KURAWA” Bolu Mengkudu Aksara Jawa sebagai Makanan Sehat dan Edukatif. PKM tersebut menjadi salah satu dari 41 proposal PKM UMMagelang yang berhasil  lolos dan mendapatkan pendanaan   dari Kemenristek Dikti Tahun 2018. Kelima mahasiswa itu yakni Ratri Darmawanti,  Nuansa Trimaya Fadhila, Ika Rismania Mithasani, Atifa Putu Prathama, dan Fera Wi Helminah dan  dibimbing oleh Dhuta Sukmarani, S.Si., M.Si.

Ratri, ketua kelompok PKM tersebut mengatakan bahwa BOLU KURAWA merupakan olahan makanan basah berbahan dasar mengkudu yang dicetak menjadi bentuk aksara jawa yang menyehatkan dan diproduksi dalam bentuk kue bolu. “Dengan adanya BOLU KURAWA (Bolu Mengkudu Aksara Jawa) diharapkan anak dapat mengkonsumsi buah mengkudu yang kaya akan khasiatnya serta mampu menumbuhkan minat siswa terhadap mata pelajaran bahasa Jawa melalui cara yang tidak biasa, yaitu melihat  kemudian memakannya,” kata Ratri.

Ratri menambahkan bahwa pembuatan Bolu Kurawa selain sebagai makanan sehat, juga sebagai makanan edukasi yaitu dengan belajar aksara Jawa serta dapat melestarikan budaya dengan bentuk-bentuk aksara Jawa yang disajikan. Dalam memasarkan Bolu Kurawa, “Sasaran utamanya adalah sekolah-sekolah di sekitar kabupaten Purworejo dan sekitarnya dengan harga …. Namun untuk selanjutnya sasaran penjualannya akan diperluas mencakup masyarakat umum,” ujar Ratri.

“Pada tahap awal kegiatan promosi dilakukan dengan menyebarkan brosur dilingkungan sekolah-sekolah, maupun promosi langsung ke sekolah dan lingkungan masyarakat,dan promosi melalui media sosial. Jika usaha ini mulai berkembang dan permintaan semakin tinggi, kami akan menamah bentuk-bentuk aksara yang lebh sulit seperti aksara murdha atau paket dalam bentuk kata,” jelas Ratri.

 

(HUMAS)

Share This

Share this post with your friends!

Share This

Share this post with your friends!